Itulah sebabnya TUHAN menasehati Yosua untuk merenungkan firmanNya siang dan malam.
Janganlah
engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan
malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di
dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan
beruntung. (Yosua 1:8)
Mengapa? Karena melalui firman-Nya kita
menemukan kekayaan hikmat yang dibutuhkan untuk mengarungi sebuah perjalanan
hidup di bumi ini. Raja Salomo dalam hikmatnya ia melihat bahwa kunci kesuksesan adalah menemukan dan memiliki hikmat !
Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar
tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat. - But wisdom
brings success (Pengkhotbah 10:10)
Salah satu keping kebenaran-Nya mengajarkan kepada kita semua sebuah
rahasia kehidupan tentang sebuah transformasi kehidupan, bagaimana sebuah benih bertransformasi menjadi pohon yang
menghasilkan buah. Sebuah biji tidak secara otomatis mencapai bentuk optimal menjadi sebuah
pohon yang menghasilkan buah. Ada
sebuah persyaratan dan keadaan yang
membuat sebuah biji mengalami transformasi
dari sebuah biji yang kecil menjadi pohon tinggi dan menghasilkan buah.
Kehidupan adalah sebuah anugerah dari Bapa, dan anugerah-Nya diberikan
dalam sebuah benih atau potensi bukan sebuah pohon yang berbuah atau hasil.
Bapa - Pencipta yang agung, memberikan kehidupan kepada anak manusia dalam
bentuk potensi atau benih dan menyingkapkan kebenaran–Nya yang akan membawa benih diubah menjadi pohon
yang berbuah. Bagian Tuhan adalah
memberikan benih dan kebenaran-Nya sedangkan bagian anak manusia adalah
melakukannya hingga memperoleh hasilnya.
Sebagai gambaran, sebuah benih ia harus mengalami jatuh ke tanah dan
pecah kulit bijinya agar kehidupan
didalam biji menemukan “jalan keluarnya” selanjutnya ia perlu berada di tanah yang baik, dan untuk menghasilkan buah pada
musimnya.
Ia seperti pohon, yang
ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang
tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
(Mazmur 1:3)
Selanjutnya, kita akan belajar satu persatu dari setiap elemen kehidupan ini.
Seed – Benih
Saya ingin berkisah tentang kisah tiga biji yang berasal dari jenis yang
sama, namun berakhir dengan nasib yang berbeda.
Benih yang pertama, disimpan dalam
sebuah topless yang kering dan tertutup rapat sehingga terlindung dari keadaan
luar. Benih yang kedua, diberikan kepada
seorang ahli bonsai dari negeri Jepang, sedangkan benih ke tiga, ditanam di hutan lindung di Amerika utara.
Karena mereka berasal dari jenis dan pohon yang
sama, tentunya mereka memiliki potensi yang sama. Namun seiring dengan
berjalannya waktu yang adalah mata uang kehidupan, mereka telah sampai
kepada keadaan yang berbeda.
Apa yang terjadi dengan ketiga benih yang berasal dari pohon yang sama ?
Benih pertama yang disimpan dalam topless yang
tertutup ternyata tidak mengalami perubahan apa-apa, sekalipun puluhan tahun
telah berlalu.
Sedangkan benih kedua, ditanam oleh ahli bonzai dan
bertumbuh menjadi sebuah pohon yang tingginya ”hanya” belasan centimeter.
Yang terakhir adalah benih yang ditanam di sebuah
hutan lindung dan bertumbuh menjadi pohon dengan ketinggian 110 meter dengan
lingkar batang 26 meter (konon di sana ada pohon yang dinamakan ”Jendral
Sherman” yang mencapai ketinggian tersebut)
Benih hanya bertransformasi dengan sebuah
persyaratan tertentu.
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam
tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan
menghasilkan banyak buah. (Yohanes 12:24)
Anugerah kehidupan yang diberikan Sang Khalik
adalah sebuah potensi, hanya hidup yang
dipersembahkan yang akan mengalami
transformasi, sebagaimana lima potong roti ditangan Kristus dimultiplikasi menjadi lima
ribu dan tersisa dua belas bakul. Demikian halnya Tuhan memultiplikasi hidup yang dipersembahkan bukan yang
dipertahankan
Banyak benih
tinggal tetap menjadi benih, kecuali ia rela jatuh ketanah dan mati, sebuah benih – seed akan mengalami transformasi
ketika bertemu dengan tanah – soil.
Mengapa banyak kehidupan yang biasa dan tidak
mengalami sebuah progress apapun sekalipun tahun demi tahun telah lewat.
Jawabannya karena mereka menggenggam erat-erat,
hanya hidup yang di dedikasikan dan dipersembahkan yang akan memberi "jalan keluar" potensi yang
ada didalamnya untuk keluar dan mencapai wujud sebenarnya.
Hanya biji yang bersedia jatuh ketanah dan mati yang mengalami transformasi menjadi
tanaman.
Soil – Tanah
Unsur yang kedua adalah tanah, benih yang ditanam di tanah yang berbeda atau di ketinggian yang berbeda akan menghasilkan
hasil yang berbeda. Kristus mengajarkan sebuah kebenaran melalui
perumpamaan ini.
Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya:
"Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu
datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu
benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak
berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak
itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali
lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa
bertelinga, hendaklah ia mendengar!" (Matius 13;3-9)
Artinya benih yang baik bahkan bersedia jatuh
ketanah pun tidak cukup, sebab jika ia jatuh ketanah yang salah, maka ia tidak
mencapai wujud yang seharusnya. Dalam realita, kita melihat banyak mereka yang
punya potensi, bakat dan berkeinginan untuk berhasil namun tidak
menjumpainya, sebab mereka berada di tempat yang salah, Bahkan beberapa
diantara mereka layu sebelum berkembang.
Jawabannya, mereka tidak berada di tanah yang tepat. Tanaman bunga eldelwys tidak pernah tumbuh dan
hidup bila ditanam di dataran rendah, sebaliknya pohon mangga tidak pernah
dapat bertahan hidup di negara yang memiliki empat musim.
Kerusakan Keluarga Lot
Apa yang terjadi dalam kehidupan Lot, adalah sebuah
contoh pemilihan tempat yang salah. Ketika Lot diberikan kesempatan oleh Abraham memilih ke kanan atau ke
kiri. Ia melihat lembah Yordan yang sbur
dan menjanjikan kemakmuran secara jasmani.
Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu
dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka
aku ke kiri."
Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah
Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar.
-- Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora.
(Kejadian
13:9-10)
Lot memilih hanya berdasarkan apa yang ia lihat
dengan mata jasmani, akhirnya Lot memilih untuk hidup di kota Sodom yang sarat
dengan dosa dosa yang keji.
Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat
ke sebelah timur dan mereka berpisah. Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot
menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom.
(Kejadian 13:11-12)
(bersambung)
Salam Kehidupan.....