Dapatkan renungan Firman Tuhan dan artikel lainnya dari kami dengan berlangganan newsletter. GRATIS!
Bukan Hidup Melainkan Kehidupan
( by. Joshua Guana Tandjung )
Most people they live as they will never die, and die as though they had never lived. But they who live in the way of love, they will walk in the path of life and being legacy for the next generation.(Modified from Interview with God)
BERAKTIFITAS NAMUN TERTIDUR
Kita menyaksikan bagaimana derap kehidupansemakin cepat, dikota-kota besar, kesibukan dan kegiatan setiap orang seolah tiada henti. Tentunya setiap orang harus melakukan tanggung jawab dan pekerjaannya masing masing, sebab mereka yang malas tidak berhak mendapat makanan. Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. (2 Tesalonika 3:10)
Namun Kristus mengingatkan kita, agar setiap orang hendaknya tidak bekerja hanya mengejar keuntungan materi semata, sebab ketika mereka harus menutup kehidupan di bumi ini, tidak ada satupun harta materi yang mengikutinya.
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal (Yohanes 6:27a)
Banyak orang mengorbankan kehidupan ini demi hal-hal materi,sekalipun tentunya hal materi adalah hal yang penting, namun perlu diletakkan pada posisi yang benar.
Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? (Matius 6:25b)
Mereka yang hidup dalam pimpinan Roh, mereka memahami arti dan makna kehidupan, sehingga mereka tidak sekedar beraktifitas tanpa tujuan melainkan mereka memiliki kesadaran sehingga mereka hidup dengan bijaksana. Inilah doa Musa kepada TUHAN, agar ia memilikihati yang bijaksana dan hidup dalam kesadaran bukan tertidur seperti orang bermimpi.
Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu. Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. (Mazmur 90:5-6,12)
TIGA PERTANYAAN KEHIDUPAN
Dalam kehidupan ini ada tiga pertanyaan mendasar yaang sekaligus adalah pertanyaan kehidupan – question of life.
Yang pertama adalah tentang Identitas – Siapakah aku ini ?
Yang kedua adalah tentang Tujuan- Mengapa aku hidup di bumi ini ?
Yang ke tiga adalah tentang Misi – Apakah peran dan panggilanku di dunia ini ?
Stephen Covey dalam salah satupernyataannya ia menyatakan pentingnya menemukan ketiga issue kehidupan dan mampu menjawabnya
Perhaps the most important vision of all is to develop a sense of self, a sense of your own destiny, a sense of your unique mission and role in life, a sense of purpose and meaning(Stephen Covey)
Mereka yang memahami kehidupan ini akan mampu menjawab ke tiga pertanyaanini. Kristus, Sang Putera ketika Ia hidup dan berjalan di atas muka bumi ini sebagai manusia, Ia memiliki kesadaran diri yang kuat tentang Identitasserta tujuan serta misi yang Ia emban dari Bapa-Nya.
Yang pertama adalah penemuan identitas diri.
Salah satu kebutuhan yang terpenting dalam hidup ini adalah menemukan indentitas diri kita melalui perjumpaan kasih BAPA. Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. (Yohanes 8:42b)
Seperti halnya sebuah bangunan, pondasi dari kehidupan ini diawali dengan menemukan diri dalam anugerah-Nya. Tanpa penemuan diri, maka tidakada kehidupan sejati. Kebahagiaan adalah hasil sebuah keutuhan diri, sementara itu keutuhan diri adalah hasil hidup dalam kepenuhan-Nya dan penemuan diri. Banyak orang tidak menjadi atau menolak dirinya bahkan kehilangan dirinya, karena penolakan dari lingkungan atau orang terdekatnya yang mengakibatkan luka. Penemuan diri adalah dasar dari penemuan tujuan hidup. Ketika Musa menemukan dirinya bukan anak putri Firaun dan pangeran Mesir, maka disanalah ia menemukan tujuan hidupnya. Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, (Ibrani 11:24)
Darisanalah ia menemukan panggilan atau misi hidupnya, menjadi pemimpin yang membebaskan bangsanya dari perbudakan.
karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. (Ibrani 11:25)
Yang kedua adalah Tujuan hidup, mengapa kita lahir dimuka bumi ini ?
Tanpa tujuan maka hidup bagaikan perjalanantanpa arti, lihatlah bangsa Israel yang tidak taat kepada panggilan-Nya, Akibatnya mereka berputar-putar dipadang gurun tanpa tujuan kecuali menghabiskan hari-hari hingga ajal menjemput mereka. Sebuah kata bijak mengajarkan, Janganlah takut mati, karena kematian hanyalah sebuah pergantian musim kehidupan menuju kekekalan. Takutlah hidup tanpa arti dan tujuan, sebab tragediterbesar bukanlah kematian melainkan hidup tanpa makna dan tujuan.
Kristus tahu dengan jelas, tujuan hidup-Nya, oleh sebab itu Ia tidak pernah ragu dalam melangkah. Jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Biarpun Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, namun kesaksian-Ku itu benar, sebab Aku tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi. (Yohanes8:14)
Dalam perjalanan pelayanan-Nya ke Yerusalem, Ia mengarahkan pandangan-Nya ke kota itu dan melangkah menuju kesana, sekalipun iamenyadari disana Ia akan disalibkan untuk menggenapi rencana Bapa-Nya
Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, (Lukas 9:51)
Yang ketiga adalah Misi atau peran kita dalam hidup ini.
Bagaikan anggota tubuh, yang memiliki fungsinya masing-masing, namun mereka bekerja sama dan saling bersinergi satu dengan lainnya, demikian halnya setiap kita dipangggil untuk menjadi instrument dalam sebuah orchestra kehidupan yang mengalunkan sebuah simphoni bagi kemuliaan sang Raja. Demikian halnya Jejak tapak kehidupan Kristus mengajarkan hidup dengan memahami misi dan panggilan yang Bapa tetapkan dalam hidupNya. Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20:28)
Rasul Paulus, seorang yang menyadari pangggilan yang ia terima dari TUHAN dengan konsekuensi yang ia harus alami karena panggilan itu. Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan. ( 2 Timotius 1:11-12)
Hal ini ia buktikan dalam hidupnya, menjelang akhir dari pelayanannya, dimana ia ditawan dan akhirnya dijatuhi hukuman mati. Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.
(Kisah 20:22-24)
Sejauh pemahaman saya, di alkitab hanya ada dua orang yang dapat menyaksikan bahwa mereka telahmenyelesaikan seluruh misiyang TUHAN tetapkan dan mencapai tujuannya.
Yang pertama adalah Guru dan Tuhan kita, Kristus sendiri, diatas kayu salib ditengah puncak penderitaan-Nya, Ia menyelesaikan seluruh misi dan kehendak Bapa dan menyerukan suara kemenangan, ”Sudah selesai !”
Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. (Lukas 23:46). Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
(Yohanes 19:30)
Orang kedua yang saya temukan adalah murid TUHAN yang luar biasa, adalah Rasul Paulus. Ia menggenapi seluruh misi dan panggilan yang harus ia selesaikan. Diakhir hidupnya ia menyaksikan bahwa ia telah menyelesaikan dan memenangkan pertandingan kehidupan.
Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. ku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. ( 2 Timotius 4:6-7)
True Life Training adalah sebuah Spiritual Training, dalam anugerah-Nya akan membawa setiap peserta untuk menemukan jawaban dari ketiga pertanyaan mendasar dalam kehidupan ini melalui tiga pengalaman rohani, perjumpaan sorgawi yang mengubahkan, spiritual detoxification yang memulihkan serta impartasi paradigma baru yang memperbarui.