Chatting

Konselor 1:
Konselor 2:
Konselor 3:
Admin:

Login

Tidak ada anggota yang online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini61
mod_vvisit_counterKemarin94
mod_vvisit_counterMinggu Ini640
mod_vvisit_counterBulan Ini408
mod_vvisit_counterSeluruhnya26692

Newsletter

Dapatkan renungan Firman Tuhan dan artikel lainnya dari kami dengan berlangganan newsletter. GRATIS!






PDF Cetak E-mail

MENGENAL TUHAN (2)

 

TUHAN bukan memiliki sifat kasih, melainkan KASIH itu sendiri, hanya mereka yang bersedia hidup dalam kasih akan hidup di frekuensi spiritual yang sama dengan keberadaanNya serta mengalami perjumpaan dengan pribadi-Nya

(Joshua Guana Tandjung)



Kasih Karunia dan Kebenaran

 

Apa yang dibawa oleh Kristus ? Bukanlah sebuah Taurat atau perintah perintah moral, melainkan dua kekuatan anugerah yang menopang kehidupan ini, mereka adalah Kasih Karunia dan Kebenaran

 

Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. (Yohanes 1:17)

 

Sebelum seseorang masuk kedalam kebenaran, ia perlu menerima kasih karunia terlebih dahulu. Kasih Karunia tidaklah bertentangan dengan Kebenaran bahkan ia harus hadir bersama sama dengan Kebenaran,  namun ia tidak sama dengan kebenaran dan keadilan. Kristus menggambarkan keberadaan kasih karunia melalui perumpamaan pekerja kebun anggur.

 

"Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. (Matius 20:1-2)

 

Mereka semua menerima kebaikan, bukan yang lain, mereka menerima upah tidak kurang dari seharusnya. Namun ketika pekerja yang bekerja seharian penuh, melihat upah yang mereka terima sama dengan yang bekerja sejak pukul lima sore, maka mereka komplain dan merasa diperlakukan dengan tidak fair. Namun tuannya, menegaskan bahwa ia tidak merugikan mereka, namun soal ia memberi upah yang sama, sekalipun pekerja terakhir hanya bekerja 1 jam saja, hal itu adalah haknya.

 

Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati ? (Matius 20:15)


Kasih karunia adalah anugerah yang diberikan kepada seseorang bukan karena jasa atau kebaikan melainkan karena kemurahan dari TUHAN sesuai dengan kasih-Nya yang melimpah. Sebagaimana diuraikan dalam tulisan sebelumnya, untuk berjalan dengan TUHAN, seseorang harus hidup dalam kebenaran atau terang hidup.

Namun tidak ada ukuran kebenaran dapat dilakukan tanpa seseorang menerima ukuran kasih karunia yang memampukannya untuk melakukan kebenaran.

 

Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia (Yohanes 1:16)


Apabila kita mempelajari perumpamaan kisah Anak yang hilang, sebenarnya yang hilang siapa ? Anak yang bungsu atau anak yang sulung ? Keduanya terhilang ! Anak yang  bungsu hilang diluar rumah, sedangkan anak yang sulung hilanng didalam rumah. Anak yang bungsu terhilang karena ia meninggalkan rumah ayahnya dan hidup diluar pola yang ditetapkan, berfoya-foya dan hidup dalam dosa. Anak bungsu sekalipun ia masih dikasihi ayahnya, namun ia terhilang, sebab ia keluar dari Kebenaran. Ketika ia kembali ke rumah ayahnya, ia tahu ia tidak lagi layak disebut anak, itulah sebabnya ia  hanya meminta untuk dijadikan pegawai saja.

 

Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

(Lukas 15:18-19)


Namun Bapanya menerima dia bukan hanya sebagai pegawai upahan, melainkan diampuni, dipeluk dan dipulihkan keadaannya, itulah Kasih Karunia. Bagaimana halnya dengan anak sulung? Ketika Ia mendengar adiknya yang telah menghabiskan harta ayahnya kembali dan ayahnya mengadakan pesta untuk adiknya dengan menyembelih lembu yang tambun, maka marahlah ia kepada adiknya.


Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. (Lukas 15:28-29)


Anak yang sulung sekalipun ia tidak melanggar perintah bapanya, namun ia gagal mengenal pribadi ayahnya yang penuh dengan kasih, Anak sulung ia tidak membangun hubungan dengan ayahnya sebagai seorang anak, melainkan sebagai pegawai upahan. Ia membenci adiknya yang menerima kemurahan dari ayahnya. Firman Tuhan mengatakan, mereka yang membenci saudaranya akan hidup dalam kegelapan.

 

Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya. (1 Yohanes 2:11)

Anak yang sulung terhilang, bukan karena melanggar,  bukan karena melakukan perbuatan perbuatan dosa, melainkan ia gagal mengenal kasih dan pribadi ayahnya dan membenci saudaranya.

 

Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. (1 Yohanes 3:14-15)

 

Anak yang sulung terhilang karena ia keluar dari Kasih Karunia, sekalipun ia bersama dengan bapanya, namun ia gagal mengenal hati bapanya.

 

God is Love

 

Apa yang dapat kita simak dari kisah Anak yang hilang ? Mereka yang ingin mengenal TUHAN tidaklah cukup hanya mengenal perintah-perintah-Nya yang sifatnya perbuatan atau tindakan, melainkan mengenal kasih-Nya dan bersedia hidup dalam kasih. Mengenal TUHAN adalah mengenal kasihNya, sebab Allah itu kasih – God is love , sebab tanpa kesediaan mengasihi dan hidup dalam kasihNya, maka ia tidak akan mengenal-Nya,, sebab God is love !

Ahli Taurat dan  orang farisi, mereka nyaris sempurna dalam menjalankan perintah hukum Taurat, namun seperti halnya anak sulung, mereka gagal mengenal TUHAN sebagai Bapa yang penuh kasih.

 

Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih akan Allah (love of God) ( Yohanes 5:42)

 

Mereka tidak memiliki satu hal yang menjadi kerinduan di hati TUHAN sendiri adalah belas kasihan !

 

Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Matius 9:13)


Banyak orang mengira ibadah adalah pengajaran untuk hidup dalam moralitas. Hidup dalam moral yang benar, adalah bagian dari kebenaran, namun bukanlah kebenaran seutuhnya. Hidup moral tidaklah dapat dijadikan modal untuk mengenal TUHAN. Ahli Taurat dan orang Farisi memiliki hidup moral yang tinggi, namun mereka tidak memiliki kecintaan kepada TUHAN dan belas kasihan kepada mereka yang menderita. Padahal belas kasihan adalah hal yang dirindukan oleh TUHAN ditemukan dalam hidup mereka yang percaya. Lawan dari kasih bukanlah benci melainkan tidak peduli. TUHAN itu kasih, barangsiapa ingin mengenal Dia, harus belajar mengenal hati-Nya yang penuh belas kasihan dan bersedia memberikan belas kasihan-Nya kepada sesamanya. Daud disebutkan sebagai orang yang berkenan kepada-Nya, dalam terjemahan bahasa Inggris dikatakan – a man after my own heart


Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku (a man after my own heart) dan yang melakukan segala kehendak-Ku.

(Kisah rasul 13:22)

 

Artinya seorang yang berkenan adalah orang yang mengerti atau memelihara (look after) hati-Nya, bukan hanya melakukan perintah perintah hukum Taurat.

 

Mengapa TUHAN begitu murka kepada penduduk Sodom, bukan hanya pelanggaran dosa sexual semata, melainkan mereka begitu egois ditengah kemakmuran yang mereka miliki.

 

Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda itu: kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin.

(Yehezkiel 16:49)

 

Tulisan ini saya tutup dengan perkataan Mother Teresa yang mengingatkan kita semua melalui salah satu perenungannya.

“At the end of our lives, we will not be judged by how many diplomas we have received, how much money we have made or how many great things we have done. We will be judged by ‘I was hungry and you gave me to eat. I was naked and you clothed me. I was homeless and you took me in.’” 

 

(bersambung)

Komentar (0)Add Comment

Tulis komentar
Anda harus login sebelum menulis komentar. Silahkan daftar jika anda belum mempunyai keanggotaan.

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >