MENGENAL TUHAN (2)
TUHAN
bukan memiliki sifat kasih, melainkan KASIH
itu sendiri, hanya mereka yang bersedia hidup dalam kasih akan hidup di
frekuensi spiritual yang sama dengan
keberadaanNya serta mengalami perjumpaan dengan pribadi-Nya
(Joshua
Guana Tandjung)
Kasih Karunia dan Kebenaran
Apa yang dibawa oleh Kristus ? Bukanlah sebuah Taurat
atau perintah perintah moral, melainkan dua kekuatan anugerah yang menopang
kehidupan ini, mereka adalah Kasih Karunia dan Kebenaran
Sebab hukum Taurat diberikan
oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. (Yohanes
1:17)
Sebelum seseorang masuk kedalam kebenaran, ia perlu
menerima kasih karunia terlebih dahulu. Kasih Karunia tidaklah bertentangan dengan Kebenaran bahkan ia harus
hadir bersama sama dengan Kebenaran, namun
ia tidak sama dengan kebenaran dan keadilan. Kristus menggambarkan keberadaan kasih karunia melalui perumpamaan pekerja kebun anggur.
"Adapun hal Kerajaan
Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari
pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja
itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. (Matius 20:1-2)
Mereka semua menerima kebaikan, bukan yang lain,
mereka menerima upah tidak kurang dari seharusnya. Namun ketika pekerja yang
bekerja seharian penuh, melihat upah
yang mereka terima sama dengan yang bekerja sejak pukul lima sore, maka mereka
komplain dan merasa diperlakukan dengan tidak fair. Namun tuannya, menegaskan bahwa ia tidak merugikan mereka, namun soal
ia memberi upah yang sama, sekalipun pekerja terakhir hanya bekerja 1 jam saja,
hal itu adalah haknya.
Tidakkah aku bebas
mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena
aku murah hati ? (Matius 20:15)
Kasih karunia adalah anugerah yang diberikan
kepada seseorang bukan karena jasa atau kebaikan melainkan karena kemurahan
dari TUHAN sesuai dengan kasih-Nya yang melimpah. Sebagaimana diuraikan dalam tulisan sebelumnya,
untuk berjalan dengan TUHAN, seseorang harus hidup dalam kebenaran atau terang
hidup.
Namun tidak ada ukuran kebenaran dapat dilakukan
tanpa seseorang menerima ukuran kasih karunia yang memampukannya untuk melakukan kebenaran.
Karena dari kepenuhan-Nya kita
semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia (Yohanes
1:16)
Apabila kita mempelajari perumpamaan kisah Anak
yang hilang, sebenarnya yang hilang siapa ? Anak yang bungsu atau anak yang
sulung ? Keduanya terhilang ! Anak yang bungsu hilang diluar rumah, sedangkan anak
yang sulung hilanng didalam rumah. Anak yang bungsu terhilang karena ia
meninggalkan rumah ayahnya dan hidup
diluar pola yang ditetapkan, berfoya-foya dan hidup dalam dosa. Anak bungsu sekalipun ia masih dikasihi ayahnya, namun ia terhilang, sebab ia
keluar dari Kebenaran. Ketika ia
kembali ke rumah ayahnya, ia tahu ia tidak lagi layak disebut anak, itulah
sebabnya ia hanya meminta untuk
dijadikan pegawai saja.
Aku akan bangkit dan pergi
kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan
terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku
sebagai salah seorang upahan bapa.
(Lukas 15:18-19)
Namun Bapanya menerima dia bukan hanya sebagai pegawai upahan, melainkan diampuni,
dipeluk dan dipulihkan keadaannya, itulah Kasih
Karunia. Bagaimana halnya dengan anak sulung? Ketika Ia mendengar adiknya yang telah
menghabiskan harta ayahnya kembali dan ayahnya mengadakan pesta untuk adiknya
dengan menyembelih lembu yang tambun, maka marahlah ia kepada adiknya.
Maka marahlah anak sulung itu
dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.Tetapi ia
menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum
pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa
memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. (Lukas
15:28-29)
Anak yang sulung sekalipun ia tidak melanggar
perintah bapanya, namun ia gagal
mengenal pribadi ayahnya yang penuh dengan kasih, Anak sulung ia tidak membangun hubungan dengan ayahnya sebagai
seorang anak, melainkan sebagai pegawai upahan. Ia membenci adiknya yang menerima
kemurahan dari ayahnya. Firman Tuhan mengatakan, mereka yang membenci
saudaranya akan hidup dalam kegelapan.
Tetapi barangsiapa membenci
saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak
tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya. (1 Yohanes 2:11)
Anak yang sulung terhilang, bukan karena melanggar,
bukan karena melakukan perbuatan
perbuatan dosa, melainkan ia gagal
mengenal kasih dan pribadi ayahnya dan membenci saudaranya.
Kita tahu, bahwa kita sudah
berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara
kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.Setiap orang yang
membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa
tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam
dirinya. (1 Yohanes 3:14-15)
Anak yang sulung terhilang karena ia keluar dari
Kasih Karunia, sekalipun ia
bersama dengan bapanya, namun ia gagal mengenal hati bapanya.
God is
Love
Apa yang dapat kita simak dari kisah Anak yang hilang ? Mereka yang
ingin mengenal TUHAN tidaklah cukup hanya
mengenal perintah-perintah-Nya yang sifatnya perbuatan atau tindakan, melainkan mengenal kasih-Nya dan bersedia hidup dalam
kasih. Mengenal TUHAN adalah mengenal kasihNya,
sebab Allah itu kasih God is love , sebab tanpa kesediaan
mengasihi dan hidup dalam kasihNya, maka
ia tidak akan mengenal-Nya,, sebab God is love !
Ahli Taurat
dan orang farisi, mereka nyaris sempurna
dalam menjalankan perintah hukum Taurat, namun seperti halnya anak sulung, mereka
gagal mengenal TUHAN sebagai Bapa yang penuh kasih.
Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak
mempunyai kasih akan Allah (love of God) ( Yohanes
5:42)
Mereka tidak
memiliki satu hal yang menjadi kerinduan di hati TUHAN sendiri adalah belas kasihan !
Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah
belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil
orang benar, melainkan orang berdosa." (Matius
9:13)
Banyak orang mengira ibadah adalah pengajaran untuk hidup dalam
moralitas. Hidup dalam moral yang benar, adalah bagian dari kebenaran, namun
bukanlah kebenaran seutuhnya. Hidup moral tidaklah dapat dijadikan modal untuk
mengenal TUHAN. Ahli Taurat dan orang Farisi memiliki hidup moral yang tinggi, namun mereka tidak
memiliki kecintaan kepada TUHAN dan belas kasihan kepada mereka yang menderita. Padahal belas kasihan
adalah hal yang dirindukan oleh TUHAN ditemukan dalam hidup mereka yang percaya.
Lawan dari kasih bukanlah benci melainkan tidak peduli. TUHAN itu kasih,
barangsiapa ingin mengenal Dia, harus belajar mengenal hati-Nya yang penuh
belas kasihan dan bersedia memberikan belas kasihan-Nya kepada sesamanya. Daud
disebutkan sebagai orang yang berkenan kepada-Nya, dalam terjemahan bahasa
Inggris dikatakan a man after my own heart
Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka.
Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang
yang berkenan di hati-Ku (a man after my own heart) dan yang melakukan segala
kehendak-Ku.
(Kisah rasul 13:22)
Artinya
seorang yang berkenan adalah orang yang mengerti atau memelihara (look after)
hati-Nya, bukan hanya melakukan perintah
perintah hukum Taurat.
Mengapa TUHAN begitu murka kepada penduduk Sodom, bukan hanya pelanggaran dosa sexual
semata, melainkan mereka begitu egois ditengah kemakmuran yang mereka miliki.
Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda itu: kecongkakan,
makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada
anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin.
(Yehezkiel 16:49)
Tulisan ini saya tutup dengan perkataan Mother
Teresa yang mengingatkan kita semua melalui salah satu perenungannya.
At the end of our lives, we will not be judged by how many diplomas we
have received, how much money we have made or how many great things we have
done. We will be judged by I was hungry and you gave me to eat. I was naked
and you clothed me. I was homeless and you took me in.
(bersambung)